Oleh-Oleh dari Kota Wisata Batu

Frame bagian pintu masuk dari Museum Angkut

Lokomotif dan rangkaiannya yang dimanfaatkan sebagai Kantin Kereta di Pasar Apung

Panorama Museum Angkut dilihat dari Pasar Apung

Panorama Kota Batu saat fajar

Panorama Kota Batu menjelang matahari terbit

Panorama Kota Batu pada waktu pagi

Panorama Kota Batu saat detik-detik matahari terbit

Dipublikasi di Foto | Meninggalkan komentar

Belajar Zuhud Terhadap Dunia

SELENGKAPNYA

Dipublikasi di Tangkapan Layar | Meninggalkan komentar

Oleh-Oleh dari Yogyakarta

Gapura batas Kota Yogyakarta dari arah Magelang pada malam hari

Panorama Yogyakarta daerah utara pada pagi hari, dilihat dari Jl. Cokroaminoto. Tampak Gunung Merapi di kejauhan, separo tertutup awan

Aktivitas di Simpang nol kilometer Yogyakarta. Tampak latar belakang Monumen Serangan Umum 1 Maret

Komplek Keraton Yogyakarta dilihat dari Alun-Alun Utara

Sisi samping Benteng Vredeburg, yang terletak di area nol kilometer Yogyakarta

Panorama Kota Yogyakarta sisi timur pada siang hari, dilihat dari Jalan Cokroaminoto. Kontur Kota Yogyakarta yang naik turun membuat seolah-olah wilayahnya terletak di dataran tinggi

Suasana malam hari di Jalan Malioboro. Tampak deretan andong menunggu untuk disewa penumpang

Salah satu yang istimewa dari Yogyakarta adalah penghormatan kepada pejalan kaki dan pesepeda. Tampak ruang tunggu khusus sepeda yang ada di setiap persimpangan jalan lampu merah. Kendaraan bermotor pun tertib antri lampu merah di belakang area tersebut

Suasana di peron Stasiun Tugu, Yogyakarta

Dipublikasi di Foto | Meninggalkan komentar

[LOGIKA] Bantahan Terhadap Atheis

Transkrip bebas dari video yang saya tonton di Facebook pagi ini:

Seorang tukang pangkas rambut (yang terkena syubhat atheis) berkata (PR): Tuhan itu tidak ada, bro ..

Pelanggan (PL): Mengapa begitu ?

PR: Jika Tuhan memang ada, niscaya tidak ada penderitaan, kemiskinan, dan kesedihan di dunia. Semua orang hidup bahagia.

PL: (manggut-manggut sambil membiarkan rambutnya dipangkas)

Setelah si pelanggan selesai memangkas rambut, dia segera membayar ongkos pangkasnya dan keluar dari kios tukang pangkas rambut. Di luar kios, dia berjumpa dengan mahasiswa gondrong yang sedang menunggu angkutan.

Setelah mengamati si mahasiswa, si pelanggan termenung dan kemudian mengajak si mahasiswa masuk ke kios si tukang pangkas rambut. Kemudian si pelanggan berkata kepada si tukang pangkas rambut.

PL: Aku juga baru sadar kalau di dunia ini juga tidak ada tukang pangkas rambut, bro …

PR: Kamu sehat, bro ?? Bukankah barusan rambutmu tadi kupangkas di sini. Lha kamu kira pekerjaanku ini apa? Itu di depan kiosku juga ada papan reklame tukang pangkas.

PL: (menggamit mahasiswa gondrong) Lha ini buktinya, ada orang di luar sana yang rambutnya gondrong tidak terpangkas

PR: (geleng-geleng kepala) Bro, hal tersebut tidak membuktikan kalau tukang pangkas rambut itu tidak ada. Itu salah orang itu sendiri, mengapa dia tidak mau datang ke sini untuk minta dipangkas rambutnya.

PL: (tersenyum) Begitu juga jawaban atas pernyataan mu tadi tentang ketiadaan Tuhan, bro. Adanya penderitaan, kemiskinan, dan kesedihan yang dialami manusia tidak membuktikan jika Tuhan itu tidak ada. Kesalahan manusia sendiri lah yang tidak mau mendatangi Tuhan untuk berdo’a dan memohon kepada-Nya, sehingga dirinya mengalami berbagai penderitaan, kemiskinan, dan kesedihan di dunia.

PR & Mahasiswa: (Diam termangu..)

SELESAI

Dipublikasi di Sharing artikel | Meninggalkan komentar

Keajaiban Dunia dan Keanehan Manusia

SELENGKAPNYA

Dipublikasi di Tangkapan Layar | Meninggalkan komentar

Kalender MotoGP 2017

Download kalender versi PDF

SUMBER

Dipublikasi di Umum | Meninggalkan komentar

Apakah ‘PBUH’ Sudah Mewakili Terjemahan Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam?

Ketika menyebut nama atau gelar dari Nabi Muhammad (Rasulullah), kaum muslimin diperintahkan untuk mengiringinya dengan mengucapkan sholawat dan salam. Biasanya kita mengucapkan Nabi Muhammad (atau Rasulullah) dan ditambahi shallallaahu ‘alaihi wa sallam [1]. Ada juga sebagian ‘ulama yang mengucapkan shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam [2].

Dalam artikel berbahasa Inggris, kalimat sholawat tersebut biasanya diterjemahkan dengan “peace be upon him” (PBUH). Saya sempat berpikir, bukankah kalimat tersebut artinya (kurang lebih) “Semoga keselamatan tercurahkan kepada beliau” ? Jika memang demikian, maka dalam bahasa Arab hanya akan menjadi “‘alaihis salaam“.

Kalimat ‘alaihis salaam memang umumnya digunakan kepada seluruh Nabi dan Rasul. Tetapi untuk Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Allah telah memerintahkan secara khusus untuk menambahkan sholawat (di samping do’a keselamatan).

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Allah and His angels send blessings on the Prophet: O ye that believe! Send ye blessings on him, and salute him with all respect.”

QS. Al Ahzab [33]: 56

Berdasarkan ayat di atas, maka kalimat “peace be upon him” belum bisa dikatakan mewakili sholawat sekaligus salam. Maka dari itu, alangkah baiknya bila ditambahkan kata “Salawat” sebelumnya, sehingga kalimatnya menjadi “Salawat and peace be upon him” atau “Blessing and peace be upon him“.

Bisa juga dengan kalimat lain yang semakna, yang jelas tidak sekadar “peace be upon him” saja. Dengan demikian, kita telah melaksanakan perintah Allah yang terkandung dalam ayat di atas.

JUST IMHO !!

====

[1] Artinya kurang lebih “Semoga sholawat dan keselamatan dari Allah tercurahkan kepada beliau

[2] Di antaranya Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullaah. Artinya kurang lebih “Semoga sholawat dan keselamatan dari Allah tercurahkan kepada beliau dan keluarga beliau

Dipublikasi di Umum | Meninggalkan komentar