Bolehkah Muslim Mengucapkan Selamat Hari Natal (dan Juga Hari Raya Non-Muslim Lainnya) ?

Suatu ketika, ada seseorang yang mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Mohon izin untuk bertanya kembali.

Apakah larangan ucapan selamat hanya utk natal saja?

Bagaimana selamat hari raya waisak (budha),

Selamat hari raya nyepi (hindu)?

Ada yg bisa menjelaskan? Apakah dilarang juga?

Bagaimana kalau ada umat nasrani yg menjelaskan, bahwa hari raya natal, adalah hari ulang tahun nabi saja. Dlm hal ini menurut mereka nabi yesus.

Bagaimana dgn nabi kita, ultah-nya kapan? Dan apakah pernah dirayakan di zamannya atau bagaimana?

Keliatan simpel yah.., tapi jadi byk pertanyaan..

Kalau umat diluar muslim mengucapkan selamat lebaran mohon maaf lahir dan batin..

Bukankah mereka telah mengiyakan pemahaman dari muslim, apakah hal ini bertentangan juga dengan agama mereka?

Dalam islam, hari besar yg diutamakan apa saja?

Ada teman yg muslim dari kecil, dia berkata, dalam islam, yg kita perbuat semasa hidup, itu yg nanti akan dipertanggung jawabkan setelah kita tidak di dunia ini lagi.

Maka komentar saya atas pertanyaan tersebut adalah:

Maaf saya hanya mencoba menjawab sedikit saja.

Larangan mengucapkan selamat hari raya itu berlaku umum kepada semua agama selain Islam, tidak khusus Natal saja. Alasannya hal itu berarti meridlai perbuatan mereka yang menyekutukan (berbuat syirik kepada) Allah.

Walaupun mungkin ada yg berdalih bahwa si pengucap ketika mengucapkan selamat hari raya itu tidak meyakini kebenaran agama selain Islam, atau perayaan itu tidak ada unsur menyekutukan Allah (seperti misalnya hanya merayakan kelahiran Yesus), tetap saja hal itu MINIMAL menunjukkan penerimaan (keridlaan) kita kepada agama selain Islam (mengakui sah nya agama mereka).

Padahal dalam aqidah Islam, agama selain Islam itu adalah batil dan jelas salah. Maka mengakui bahwa agama selain Islam itu boleh dipeluk (BUKAN mengakui bahwa agama selain Islam itu tidak ada, karena memang agama2 selain Islam itu memang ada dan diakui oleh pemerintah) menunjukkan bahwa tauhid kita kepada Allah masih belum sempurna. Bahkan saya khawatir ujung2nya meyakini bahwa SEMUA AGAMA ADALAH SAMA, SAMA – SAMA MENGAJARKAN KEBAIKAN DAN MELARANG KEBURUKAN.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al Baqarah [2]: 256)

Itulah rukun kalimat tauhid LAA ILAAHA ILLALLAAH:
1. Kita meyakini bahwasanya tidak ada Tuhan (selain Allah) yang patut disembah >> LAA ILAAHA
2. Kita meyakini bahwasanya (hanya) Allah sajalah yang berhak disembah >> ILLALLAAH

Para ‘ulama’ menyatakan, bahwa siapa yang meyakini (1) tanpa (2) maka dia ATHEIS. Siapa meyakini (2) tanpa (1) maka dia MUSYRIK. Dan siapa yang meyakini (1) dan (2), maka dia adalah MUWAHHID (orang yg bertauhid).

Bentuk toleransi kita kepada non Islam cukup dengan membiarkan mereka menjalankan keyakinan agama mereka dengan tenang, tidak perlu membantu mereka, namun juga tidak mengganggu mereka (dalam masalah keagamaan).

Kalau toleransi dalam masalah muamalah (pergaulan sehari-hari), malah Islam lebih luas lagi. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an:

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Mumtahanah [60]: 8)

Maaf, ayat di atas sering dijadikan dalil yang membolehkan pengucapan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain. Padahal kalau mau melihat tafsirnya, yang dimaksud berbuat baik dan berlaku adil itu adalah dalam masalah muamalah dunia, semisal perdagangan, pengadilan, bertetangga, dll. Silahkan dilihat di semua kitab tafsir ‘ulama’2 dahulu (semisal Tafsir Ibnu katsir, tafsir Qurthubi, tafsir Thibari, dll). Kalau yg kontemporer (semisal Tafsir Al- Mishbah) sudah pasti membolehkan mengucapkan selamat hari raya, karena zaman ini ajaran Islam sudah begitu dikaburkan oleh berbagai pemikiran yang menyerang aqidah, semisal pemikiran liberal dan pluralisme (bukan pluralitas).

Begitu juga ayat yang lain:

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”(QS. An Nisa'[4]: 86)

juga sering dijadikan dalil bolehnya pengucapan selamat hari raya pemeluk agama lain. Padahal kalau kita cermati ayatnya, At-tahiyyat (ucapan penghormatan) itu jelas berbeda dengan ucapan selamat hari raya. Kalau yg dimaksud itu adalah penghormatan karena mereka (non muslim) dahulu mengucapkan selamat hari raya kepada kita, ya kita balaslah ketika mereka waktu itu mengucapkan selamat kepada kita, misalnya,”Terima kasih. Semoga Allah menunjuki anda kepada kebenaran.” dan semisalnya. Bukan berarti mereka mengucapkan hari raya ke kita, kita balas mengucapkan selamat hari raya agama mereka.

Sekali lagi, penghormatan kita kepada agama non muslim cukup dengan membiarkan mereka menjalankan keyakinan agama mereka dengan tenang, tidak perlu membantu mereka, namun juga tidak mengganggu mereka. Masalah apakah agama mereka membolehkan mengucapkan selamat hari raya ke kita (umat Islam), itu urusan mereka sendiri. Untuk kita agama kita, dan untuk mereka agama mereka.

Kemudian jika Natal itu sendiri kemudian dikaitkan dengan maulid nabi, maka saya ingin menyampaikan bahwasanya perayaan maulid Nabi ini tidaklah pernah diperintahkan oleh Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan tidak pernah pula dilakukan oleh para shahabat-shahabat beliau -ridwaanallaahu ‘anhum jamii’an- sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap beliau. Bahkan maulid Nabi ini sengaja dibikin umat Islam belakangan untuk menandingi perayaan Natal.

Sebaik-baik petunjuk adalah tuntunan dari Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan apa yang diamalkan oleh shahabat-shahabatnya dan pengikut mereka yang baik.

Mohon maaf jika kata-kata saya terlalu keras dan mungkin menyinggung sebagian saudara-saudariku yang muallaf (baru masuk Islam). Saya hanya menginginkan perbaikan dan kebaikan bagi umat Islam semampu yang saya lakukan, dan tidaklah ada hidayah taufiq itu kecuali dari Allah.

Saya ingin sedikit menambahkan. Sebagian saudara muslim kita ada yang ketika sudah berdiskusi tentang hukum mengucapkan selamat hari raya non-muslim, ujung-ujungnya berdalih dengan ikhtilaf ulama.

Maka saya katakan:

  1. Saudaraku, yang pertama perlu kita cermati adalah ikhtilaf (perbedaan pendapat) ini kapan munculnya ? Maka kalau kita pelajari, munculnya perbedaan pendapat ini hanyalah baru-baru ini saja, di era modern ini, di mana Islam yang benar (termasuk konsep-konsep aqidah) sudah demikian kabur sehingga hanya sangat sedikit umat muslim yang aqidahnya sesuai dengan Aqidah Islamiyyah yang lurus.
  2. Yang kedua, perbedaan pendapat tersebut dari ulama’ mana ? Maka kembali kita lihat bahwasanya perbedaan pendapat tersebut berasal dari ulama-ulama masa kini, di mana ulama yang membolehkan tersebut umumnya berasal dari negara yang jumlah muslimnya sedikit atau negara yang pemeluk muslimnya banyak namun telah disusupi paham sekuler dan pluralisme. Maka di sini saya tidak ingin mengomentari ulama-ulama yang membolehkan ucapan selamat hari raya non-Islam tsb, namun saya ingin mengatakan bahwa dalam setiap perbedaan pendapat itu HANYA ADA SATU pendapat yang benar.
  3. Jika kita tarik ke belakang, apakah hari raya-hari raya non-Islam itu baru ada pada masa-masa sekarang ini ? Tidak, bahkan sebelum Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam diutus pun perayaan-perayaan ini sudah ada. Mengutip dari Wikipedia Indonesia, perayaan natal pertama kali diselenggarakan pada tahun 336 M (sumber), bahkan ada yang menyatakan mulai tahun 200 M di Mesir (sumber). Meskipun demikian, belum pernah kita dapati dalam sejarah-sejarah Islam terdahulu ada orang Islam (rakyat ataupun penguasa) yang mengucapkan selamat hari raya non-Islam, bahkan perselisihan ulama dahulu tentang hukum mengucapkan selamat hari raya non-Islam bisa dikatakan tidak ada. Padahal kita tahu, mengucapkan selamat hari raya itu sudah dikenal sejak zaman shahabat, di mana mereka saling mengucapkan “Taqabbalallaahu minnaa wa minkum” ketika Hari Raya ‘Ied. Namun tidak ada riwayat mereka pernah mengucapkan selamat hari raya Hanukkah kepada Yahudi yang tinggal di Madinah. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwasanya ikhtilaf mengucapkan selamat hari raya non-Islam ini mulai muncul ketika umat Islam di dunia mulai lemah (antara lain sejak runtuhnya Kerajaan Turki Usmani) dan mendominasinya orang Barat di dunia Islam.
  4. Saya berprasangka baik kepada ulama yang membolehkan mengucapkan selamat hari raya non-Islam bahwasanya pendapat tersebut keluar dari ketergelinciran mereka (dan tidak ada seorang ulama pun yang lepas dari ketergelinciran-kecuali para nabi-). Dan barang siapa yang mengambil rukhsah (keringanan) dari setiap ketergelinciran ulama, maka dikhawatirkan dia akan kehilangan agamanya. Silahkan baca di fatwasyafiiyah.blogspot.com, karena banyak faedah yang sangat bagus di situ.

Mari kita lihat bagaimana bentuk toleransi beragama dari seorang Amirul Mukminin, Khalifaturrasul ‘Umar bin Khath-thab –semoga Allah meridlainya-. Seorang yang dikenal sangat tegas dalam Islam, seorang yang dijamin sebagai penghuni surga oleh Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, seorang dari pendahulu kita yang sholih. Kisah ini saya kutip dari sebuah website Islam:

Toleransi Umar

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

JIKA barometer toleransi abad 20 ini dideteksi di setiap penjuru dunia, maka Jerussalem mungkin adalah yang terburuk.

Pada akhir tahun 1987 saya sempat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno di atas bukit yang dikelilingi tembok raksasa itu menyimpan tempat suci utama tiga agama. Ketiganya adalah Masjid al-Aqsa, Wailing Wall (Dinding Ratapan) dan Gereja Holy Sepulchre (Kanisat al-Qiyamah). Di zaman modern tempat ini adalah daerah konflik yang paling menegangkan di dunia.

Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu banyak perisiwa menegangkan. Saya menyaksikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan sumpah serapah, nyaris saling bunuh.

Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan pongah dan percaya diri dia teriak, “I come here to kill Muslims”. Di pintu gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid al-Aqsa! Selamatkan masjid al-Aqsa!

Namun jika deteksi toleransi itu dialihkan abad ke 7 dan seterusnya mungkin Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim memimpin dan melindungi kota ini. Jika kita menelurusi lorong via dolorosa menuju Gereja Holy Sepulchre orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak persis didepan gereja yang diyakini sebagai makam Jesus. Di situ semua sekte berhak melakukan kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan segera berkhayal “ini pasti lambang konflik dimasa lalu”. Tapi khayalan itu ternyata salah. Fakta sejarah membuktikan masjid itu justru simbol toleransi.

Sejarahnya, umat Islam dibawah pimpinan Umar ibn Khattab mengambil alih kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada bulan Februari 638. Mungkin karena terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat itu, segera “menyerahkan kunci” kota.

Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi ia menolak dan berkata: “jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka, hanya karena saya pernah shalat disitu”.

Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Ditempat batu itu jatuh ia kemudian melakukan shalat. Umar kemudian menjamin bahwa Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai kapanpun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi Umar.

Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah itu mirip dengan piagam Madinah. Dibawah kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka.

Piagam itu di antaranya berisi sbb: Umar amir al-mu’minin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama.  Gereja mereka tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Penduduk Ilia (maksudnya Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya; dan seterusnya.

Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikutnya Sophorinus juga menyatakan jaminannya. “kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru dikota dan pinggiran kota kami;..Kami juga akan menerima musafir Muslim kerumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam… kami tidak akan menggunakan ucapan selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam”.  (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar b. al-Khattab Trans. Yohanan Fiedmann, Albany, 1992, p. 191)

Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam Piagam itu melarang Yahudi masuk ke wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun Umar meminta ini dihapus dan  Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon Umar bahkan mengajak Sophorinus membersihkan synagog yang penuh dengan sampah. Itulah toleransi Umar.

Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari satu khalifah ke khalifah lainnya. Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi  dan Kristen serta antara sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terjadi perselisihan antar sekte di gereja Holy Sepulchre tentara Islam diminta berjaga-jaga di dalam gereja. Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari shalat dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya mereka shalat dimana Umar dulu shalat.

Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193, membangun masjid permanen. Jadi masjid Umar inilah saksi toleransi Islam di Jerussalem.

Namun, kini Jerussalem yang damai tinggal cerita lama. Belum ada jalan kembali menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi seperti dulu sudah mati oleh liberalisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. Kenneth R. Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. Biang keladinya adalah humanis sekuler yang atheis dan paham pluralisme agama (The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling utopis.*

Penulis adalah Direktur Program PKU ISID

Semoga bermanfaat …

Tentang Sa'ad

Ingin menunjukkan bukti bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya, agar Allah dan Rasul-Nya mencintai saya ... Ingin menunjukkan bukti bahwa saya adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tua, agar kedua orang tua saya merasa ridla kepada saya ...
Pos ini dipublikasikan di Sharing artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s