Menyantuni Anak Yatim [Miskin] ??

Saya tergelitik oleh tema di atas setelah pagi ini membaca sebuah e-mail melalui milis yang saya ikuti. Inti dari e-mail tersebut, apakah untuk menyantuni anak yatim, disyaratkan anak yatim tersebut harus miskin (serba kekurangan) ??

Sejauh yang saya tahu, semua dalil (baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah) tentang menyantuni anak yatim bersifat umum, dan tidak membedakan apakah yatim tersebut kaya atau miskin. Tentu saja sebelumnya kita harus sepakat bahwasanya yang dimaksud yatim dalam syari’at itu adalah anak yang ditinggal mati ayah kandungnya. Dan status yatim itu tidak dibawa selamanya, sebagaimana status mualaf. Status sebagai yatim hilang ketika anak tersebut telah baligh (dewasa) dan memiliki kemampuan untuk bekerja/mandiri.

Hanya tidak bisa dipungkiri, setiap disebut anak yatim, mindset kita pasti langsung terbayang jika anak tersebut berasal dari keluarga kurang mampu. Padahal Al Qur’an sendiri telah menceritakan tentang anak yatim yang kaya (dan kewajiban bagi walinya), yaitu:

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka.” (QS. An Nisa’ [4]:2)

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).”(QS. An Nisa'[4]: 5-6)

Dari ayat di atas, kita bisa memahami bahwa terkadang anak yatim itu mewarisi harta yang sangat banyak dari ayahnya. Oleh karena usianya yang belum baligh, maka wali anak yatim tersebut berkewajiban untuk mengelola harta anak yatim tersebut hingga dia baligh. Itulah sebabnya, Khalifah ‘Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu pernah memerintahkan kepada wali anak yatim untuk menginvestasikan harta anak yatim yang di bawah perwaliannya ke dalam perdagangan supaya harta anak yatim tersebut tidak habis dikeluarkan untuk zakat (dan sudah maklum bahwa salah satu syarat harta yang dikenai zakat itu adalah harta yang sudah mencapai nishab/banyak).

Jika demikian keadaan anak yatim tersebut (yakni kaya), lantas apakah dia tidak berhak lagi memperoleh santunan ??

Perlu kita renungkan, bahwa sekaya apapun seorang anak yatim, tetap saja dia memiliki kekurangan dibandingkan anak-anak umumnya, yaitu seorang ayah yang mengayomi, membimbing, dan melindunginya. Jika keadaan anak yatim tersebut –dari sisi materi– sudah berkecukupan, kita masih bisa menyantuninya dari sisi lain, yaitu mengayomi, membimbing, dan melindunginya.

Oleh karena itu, pernah diriwayatkan bahwasanya ada seseorang yang datang mengadu kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam tentang hatinya yang keras. Maka beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

ارحم اليتيم و امسح رأسه و أطعمه من طعامك يلن قلبك و تدرك حاجتك

Kasihilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu, niscaya hatimu akan lembut dan mendapatkan kebutuhanmu”. (HR. Ath-Thobrani dari Abu Darda’ radliyallaahu ‘anhu). [Mohon bagi teman2 yang mengetahui jika hadits ini dha’if, sudi menyampaikannya kepada saya]

Anak yatim tetaplah anak yatim, yang masih membutuhkan seseorang untuk mengayomi, membimbing dan melindunginya, meskipun dia kaya atau masih mempunyai ibu yang mengasihi dan menyayanginya. Jika untuk menyantuni anak yatim, kita menunggu-nunggu untuk menemukan anak yatim yang serba kekurangan, saya yakin kita “tidak akan pernah” menyantuni anak yatim sampai ajal menjemput kita.

Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat dan membuka wawasan kita …

Info penambah wawasan : TIDAK SETIAP ANAK YATIM BERHAK MENDAPAT ZAKAT

Tentang Sa'ad

Ingin menunjukkan bukti bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya, agar Allah dan Rasul-Nya mencintai saya ... Ingin menunjukkan bukti bahwa saya adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tua, agar kedua orang tua saya merasa ridla kepada saya ...
Pos ini dipublikasikan di Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s