Sholat di Awal Waktu khan Sunat ??

Jika ada yang bertanya, “Bukankah waktu shalat merupakan kewajiban yang luas waktunya? bisa dikerjakan selama  batasan waktu yang telah ditentukan syariat masih ada?

Jawabannya:

Ya, memang benar, bahwa shalat itu kewajiban yang luas waktunya, artinya boleh dikerjakan di akhir waktu. Namun, perlu kita ketahui, mengerjakan shalat di awal waktu adalah sebuah keutamaan, kecuali shalat Isya’, shalat Isya dianjurkan untuk diakhirkan jika memang tidak menyebabkan terlewatkannya shalat Isya’ dan jamaah.

Bahkan Anas bin Malik memandang, menangguhkan shalat yang telah tiba waktunya hingga sebelum waktu shalat habis adalah perbuatan yang menyelisihi petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam dan merupakan salah satu bentuk penyia-nyiaan terhadap ibadah shalat.

Dalam sebuah hadits disebutkan, Zuhri berkata, “Aku mendatangi Anas bin Malik saat beliau di Damaskus, saat itu beliau menangis, lalu aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang menyebabkanmu menangis?’ Beliau menjawab, ‘Sekarang ini aku tidak menemukan sebuah perkara yang aku temukan pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam kecuali tinggal perkara shalat saja, namun shalat sekarang ini telah disia-siakan.’” (Riwayat Bukhari : 530)

Kapan seseorang boleh menangguhkan shalat hingga sebelum berakhirnya waktu shalat ? dan bagaimana hukum shalatnya?

Secara umum, shalat yang dikerjakan bukan di awal waktu itu sah, namun dia tidak mendapatkan pahala keutamaan shalat di awal waktu, kecuali ada alasan syar’i yang mengharuskan dia untuk menunda pelaksanaan shalat dari awal waktu.

Di antara sebab tersebut adalah:

a. Jika menangguhkan shalat dari awal waktu itu lebih baik, lebih sempurna dan lebih khusyu’  maka diperbolehkan seseorang menangguhkan shalat dari awal waktu. Sebagai contoh, seorang yang sedang dalam perjalanan dan bersamaan dengan masuknya waktu shalat, jika dia shalat di awal waktu, maka dia harus bertayamum karena tidak ada air, namun, jika dia tunda, maka dia bisa mengerjakan shalat dengan berwudhu dan masih bisa shalat di waktu yang ditentukan, maka dia boleh menangguhkan shalat.

b. Jika dia sedang melakukan sebuah pekerjaan yang jika dia tinggalkan untuk shalat di awal waktu, maka bisa menyebabkan dia melanggar batasan agama lainnya. Misalnya, seseorang yang menggembala kambing, saat tiba waktu shalat, kambing-kambing mendekati tanaman tetangga, jika dia tinggalkan untuk shalat di awal waktu, maka kambing-kambingnya akan merusak tanaman tersebut, karenanya, dia boleh menangguhan shalat dari awal waktu, selama tidak sampai keluar dari waktu yang ditentukan oleh syariat.

Wallahu A’lam.

SELENGKAPNYA …

—oo00oo–

Jadi, kesimpulan akhir tetap pada diri kita masing-masing. Apakah mau menunda shalat atau shalat di awal waktu. Bagi yang berpandangan, yang penting masih shalat, gak dapat keutamaan gak papa khan, ya silahkan menjadi orang yang hanya merasa cukup dengan menjalankan kewajiban saja.

Tapi Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk tamak (rakus) dalam urusan akhirat. Sebagaimana dalam potongan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam,

Bersemangatlah terhadap perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” (Riwayat Muslim nomor 2664)

Sebagai perenungan,

dalam masalah dunia, kita tidak pernah merasa cukup dengan kebutuhan primer kita. Tidak pernah kita berprinsip sebagaimana prinsip kita dalam beribadah (yang penting bisa hidup, gak mewah gak papa khan). Selalu saja kita berdalih dengan beragam alasan untuk membenarkan prinsip kita tersebut (“kalau punya mobil, khan untuk perjalanan menjadi nyaman dan tidak kehujanan“, “kalau ada AC, khan bisa lebih dingin“). Apakah tidak merasa cukup dengan sepeda motor dan kipas angin (misal nya) ??

Kalau untuk urusan dunia (yang notabene sangat fana ini), kita sedemikian gigih; mengapa untuk urusan akhirat kita tidak berprinsip yang sama (atau bahkan lebih tamak lagi) ??

Ataukah kita sudah merasa cukup dengan “yang penting masuk surga, walau surga paling bawah” ??

Tentang Sa'ad

Ingin menunjukkan bukti bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya, agar Allah dan Rasul-Nya mencintai saya ... Ingin menunjukkan bukti bahwa saya adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tua, agar kedua orang tua saya merasa ridla kepada saya ...
Pos ini dipublikasikan di Sharing artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s