Geosentris vs Heliosentris (Bag. II)

Berikut ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya di blog ini, Geosentris vs Heliosentris.

Kembali saya sampaikan, bahwa posting ini akan terus di update seiring dengan update nya diskusi pada komentar di artikel Bulan Terbelah tersebut.

Apabila ingin berdiskusi secara ilmiah atau mendebat secara ilmiah atas argumentasi yang ada, silahkan langsung berkomentar ke artikel asli tersebut. Nanti insya Allah akan saya posting juga di sini, apabila sudah tampil pada artikel asli tersebut.

Selamat mengikuti … !!

========

Anonim mengatakan…

Saya runut satu persatu membaca komentar-komentar diatas, komentar/Jawaban dari Abu Yahya koq ngambang yah? saya membacanya koq malah tidak tercerahkan…,

13 Juli 2015 23.08 

Ryan Arifandi mengatakan…

Assalāmualaykum

Akhy Abu Yahya apa antum bisa sebutkan beberapa ilmuwan kontemporer baik kafir ataupun muslim yg mendukung MMB (Matahari Mengelilingi Bumi)? Sebagai referensi ana untuk sedikit memperdalam pembahasan ini.

Kemudian ana ada pertanyaan kecil, bukankah Amerika dan negeri2 lain dalam menjalankan misi luar angkasa menggunakan referensi BMM (Bumi Mengelilingi Matahari)? Apakah rumus2 empiris dinamika benda antara MMB & BMM dapat dipertukarkan? Kalo memang iya, apakah ada ilmuwan yg membahas pembuktian rumus tersebut?

Mohon pertanyaan ana tidak dianggap sbg pernyataan yg meragukan MBB, ana hanya seorang yg relatif baru mengenal sunnah.

Jazakallah Khoir.
Wassalāmu’alaykum.

18 Juli 2015 16.55 

Geo Sentris mengatakan…

To Anonim 13 Juli 2015 23.08:

Ngambang ataupun tidak, tercerahkan ataupun tergelapkan, itu tergantung tingkat pemahaman masing-masing orang.🙂

To Ryan Arifandi:

Wa’alaikumsalaam,

Sebagian besar ilmuwan, abstain. Tidak memihak MMB maupun BMM. Namun kecenderungan untuk memilih kerangka acuan biasanya ditentukan oleh perhitungan mana yang lebih mudah. Kadang MMB, kadang BBM. Tergantung kebutuhan. Seperti apa yang dikatakan oleh seorang Relativist, Martin Gardner:

One could just as legitimately assume the Earth to be fixed and the entire universe, with its great spherical cloud of black-body radiation, to be moving. The equations are the same. Indeed, from the standpoint of relativity the choice of reference frame is arbitrary. Naturally, it is simpler to assume the universe is fixed and the Earth moving than the other way around, but the two ways of talking about the Earth’s relative motion are two ways of saying the same thing… ” (The Relativity Explosion,” hal. 18)

Tapi ada juga sebagian ilmuwan yang ngotot harus BMM. Alasannya, karena filosofi sains sekarang sudah menganut Copernican Principle. Yaitu, prinsip (dogma) hasil modifikasi ide dari Copernicus (baca)

Ilmuwan yang model begini, gak kalah jumud dan fanatiknya dengan muslim yang meyakini MMB karena aqidah Islam mengajarkan demikian. Ketemu orang yang seperti ini cukup katakan, “Untukmu aqidahmu dan untukku aqidahku.”🙂

Alasannya jelas, seperti disebutkan di link yang ane cantumin di atas:

The Copernican principle has never been proven, and in the most general sense cannot be proven, but it is implicit in many modern theories of physics.”

Soal misi luar angkasa, seperti yang ane katakan di atas. Dicari kerangka acuan yang paling mudah perhitungannya. Kalau misal, komunikasi antara bumi dengan mars, ya pakainya MMB. Pakai BMM malah ribet, karena baik bumi maupun Mars sama-sama bergerak di kerangka ini. Ibarat menembak target bergerak di atas kendaraan yang sedang melaju konstan, untuk mempermudah perhitungan, kendaraan harus dianggap diam.🙂

Bahkan, mostly, kerangka acuan yang dipakai itu adalah MMB karena ini menyangkut asal peluncuran wahana dan komunikasi, yang tidak lain adalah bumi. Penggunaan BMM paling dipakai untuk pergerakan planet-planet di tata surya. Which is, gak terlalu signifikan manfaatnya.

Soal ekivalensi perhitungan antara BMM dan MMB, sudah banyak dijabarkan di buku-buku Relativitas. Bejibun.

Untuk ekivalensi model antara Neo-Tychonian (MMB) dan Keplerian (BMM) coba gugel jurnal yang terdaftar di European Journal of Physics yang ditulis oleh Luka Popov berjudul, “Newtonian–Machian analysis of the neo-Tychonian model of planetary motions.”

13 September 2015 16.25 

Ryan Arifandi mengatakan…

Masya Allah, semoga Allah menambah ilmu antum.

14 September 2015 21.41

SUMBER

Tentang Sa'ad

Ingin menunjukkan bukti bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya, agar Allah dan Rasul-Nya mencintai saya ... Ingin menunjukkan bukti bahwa saya adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tua, agar kedua orang tua saya merasa ridla kepada saya ...
Pos ini dipublikasikan di Sharing artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s