Mengapa Ahlussunnah Begitu Mementingkan Tauhid dan Aqidah ?

Alhamdulillah, tidak terasa kita sudah kembali memasuki salah satu dari bulan-bulan haram, yaitu Dzulqo’dah. Pada bulan ini, umat muslim mulai melaksanakan rangkaian ritual untuk melakukan ibadah haji yang puncaknya pada 9 Dzulhijjah nanti.

Bulan Dzulqo’dah, sebagaimana bulan-bulan haram lainnya, wajib kita muliakan, karena Allah telah memuliakan bulan ini dan menjadikannya sebagai bulan haram. Sebagaimana petikan nasihat dari Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullaah berikut ini:

Semenjak Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan langit dan bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan jumlah bulan yaitu dua belas bulan; empat diantaranya adalah bulan haram. Tiga bulan berurutan yaitu Dzul-qa’dah, Dzul-hijjah, lalu Muharram. Serta satu yang terpisah yaitu bulan Rajab. Ini merupakan bulan-bulan diagungkan, baik pada masa jahiliyyah ataupun pada masa Islam, Allah mengkhususkan larangan berbuat zhalim di bulan-bulan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu”.

(QS. at Taubah [9]:36)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang untuk berbuat zhalim pada diri kita dengan segala bentuknya, terutama di bulan-bulan haram yang larangannya lebih keras dibanding dengan bulan-bulan yang lain. Oleh karena itu, kita wajib menghormati dan mengagungkan bulan-bulan ini. Kita harus menjauhi perbuatan zhalim dengan segala ragamnya, baik zhalim terhadap diri apalagi zhalim terhadap orang lain. Dengan demikian kita akan menjadi orang yang berbahagia.

Di antara bentuk kezhaliman adalah meninggalkan apa yang diwajibkan oleh Allah ataupun melakukan apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, jiwa ini merupakan amanah yang wajib kita jaga. Hendaklah kita menjadikan jiwa kita menjadi jiwa yang selalu tunduk dan patuh kepada Khaliq-nya.

Gapailah kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan selalu membersihkan jiwa dari noda dan dosa, sehingga jiwa kita menjadi jiwa yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala [SUMBER]

Selanjutnya …

Hari ini dapat pelajaran (Faidah) dari kajian rutin aqidah yang disampaikan oleh Ust. Abdurrahman Thayib hafidhahullah, ketika beliau menjawab salah satu pertanyaan yang disampaikan pada akhir kajian.

Mengapa Ahlussunnah wal Jama’ah sangat mementingkan da’wah/pengajaran/pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ?

Termasuk juga pengajaran/pembahasan tentang tauhid ?

Maka jawabnya:

Karena masalah tauhid, pengajaran tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah pembahasan tentang HAK-HAK ALLAH. Yang mana dengan memahami hak-hak Allah ini, kita dapat merealisasikan tujuan kita diciptakan sebagai makhluk, yaitu menyembah hanya kepada Allah. Dengan menghayati hak-hak Allah tersebut, kita dapat merealisasikan ketundukan kita terhadap perintah dan larangan Allah, termasuk mengagungkan bulan-bulan haram dan tidak berbuat dzalim di dalam bulan-bulan haram tersebut.

Adapun masalah-masalah lainnya, seperti penegakan khilafah Islamiyyah, pengentasan kemiskinan dengan menggerakkan perekonomian berdasarkan syari’at Islam (ekonomi syari’ah), dan yang semisalnya merupakan pembahasan terkait hak-hak makhluk.

Tentu kita tidak mengesampingkan pembahasan masalah-masalah yang sudah disebutkan tersebut. Namun di sana ada yang dinamakan PENTING dan YANG LEBIH/PALING PENTING. Hanya dengan memenuhi hak-hak Allah-lah maka kita akan dapat memenuhi hak-hak makhluk.

Jika hak-hak dari Pencipta kita dan Penguasa seluruh alam saja masih kita abaikan (kesampingkan), bagaimana mungkin kita akan dapat menunaikan hak-hak makhluk yang notabene sama dengan diri kita ?

Jika hak-hak dari kedua orang tua kita masih kita abaikan, mungkinkah kita bisa menunaikan hak-hak masyarakat di sekitar kita (yang secara kekerabatan, jauh dari kita) dengan baik dan patut ?

Dengan demikian, kita perbaiki dulu akhlak dan muamalah kita kepada Allah maka insya Allah akhlak dan muamalah kita kepada sesama makhluk (manusia, hewan, alam/lingkungan) akan ikut baik.

TAMBAHAN: Bukan berarti dengan begitu pembahasan tentang muamalah kepada makhluk (khilafah, siyasah, hudud, ekonomi syari’ah, dll) TIDAK dilakukan sama sekali sampai pembahasan muamalah kepada Allah selesai. Akan tetapi, prioritas pembahasan tetap kepada pembahasan hak-hak Allah.

Tentang Sa'ad

Ingin menunjukkan bukti bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya, agar Allah dan Rasul-Nya mencintai saya ... Ingin menunjukkan bukti bahwa saya adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tua, agar kedua orang tua saya merasa ridla kepada saya ...
Pos ini dipublikasikan di Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s